Skip to main content

AI assistant

Sign in to chat with this filing

The assistant answers questions, extracts KPIs, and summarises risk factors directly from the filing text.

Multi Indocitra Tbk Audit Report / Information 2020

Dec 31, 2020

69488_rns_2020-12-31_aaec4a35-7738-476f-98f7-e781e2374bfa.pdf

Audit Report / Information

Open in viewer

Opens in your device viewer

Jakarta, 31 Maret 2021 No. 3/MIC/CORPSEC/III/2021

Kepada Yth.

Direksi PT Bursa Efek Indonesia Jakarta Stock Exchange Building Tower I Jl. Jend. Sudirman Kay. 51-53 Jakarta 12190

Up : Divisi Pencatatan Sektor Jasa

: Penjelasan Perubahan lebih dari 20% pada Total Aset dan atau Total Liabilitas dalam Laporan Hal

Keuangan Konsolidasian Auditan per 31 Desember 2020 bila dibandingkan dengan Laporan
Keuangan Konsolidasian Auditan per 31 Desember 2019 (Disajikan kembali)

Dengan hormat,

Sesuai dengan Lampiran Keputusan No. KEP-306/BEJ/07-2004, Peraturan Nomor I-E Bursa tentang
Kewajiban Penyampaian Informasi, butir III.I.4 yang berbunyi terdapat perubahan lebih >= 20% dimana
terjadi kenaikan (penurunan) y Disajikan kembali adalah sebagai berikut:

Sebagai tambahan catatan informasi : Pada tanggal 22 Desember 2020, Perusahaan mengalihkan seluruh saham Perusahaan berjumlah 2.550 saham di PT Nusapangan Sukses Makmur kepada PT Pusat Riyal Amanah. Transaksi tersebut dian

Berikut dibawah ini merupakan penjelasan atas kenaikan (penurunan) yang signifikan tersebut antara lain:

  • Kas dan setara kas per 31 Desember 2020 sebesar Rp55,753 miliar mengalami peningkatan sebesar
    Rp22,128 miliar (65,81%) dibandingkan saldo per 31 Desember 2019 sebesar Rp33,625 miliar terutama dikarenakan terjadinya penurunan pembayaran pajak penghasilan badan, pembayaran kepada pemasok, beban usaha dan operasional lainnya selama tahun 2020 dibandingkan tahun 2019 serta peniason, bebari usaha dan berasibilan lantinya selaina tahun 2020 dibandingkan tahun 2019 serta
    adanya penerimaan kas dari pencairan deposito berjangka PT Bank Danamon Indonesia Tbk sebesar
    Rp8,500 miliar dan PT Bank Cent kepada para pemegang saham sebesar Rp2.959.520.000 pada tanggal 18 September 2020 berdasarkan hasil keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPST) tanggal 14 Agustus 2020.
  • Deposito berjangka per 31 Desember 2020 sebesar nihil mengalami penurunan sebesar Rp8,700 miliar (100,00%) dibandingkan saldo per 31 Desember 2019 sebesar Rp8,700 miliar terutama dikarenakan adanya pencairan deposito berjangka PT Bank Danamon Indonesia Tbk sebesar Rp8,500 miliar dan PT
    Bank Central Asia Tbk sebesar Rp0,200 miliar pada tahun berjalan.
  • Investasi dalam saham per 31 Desember 2020 sebesar Rp1,224 miliar mengalami penurunan sebesar Rp3,912 miliar atau turun 76,17% jika dibandingkan saldo per 31 Desember 2019 sebesar Rp5,136 miliar

dikarenakan terdapatnya penurunan harga pasar saham PT Modernland Realty Tbk (MDLN) sehingga besarnya rugi bersih yang belum direalisasikan atas investasi saham yang tersedia untuk dijual masingmasing sebesar Rp7,752 miliar dan Rp3,840 miliar disajikan sebagai bagian dari akun "Aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui penghasilan komprehensif lain" dalam komponen ekuitas masing-
masing pada tanggal 31 D miliar selama periode Januari - Desember 2020 dibukukan sebagai penghasilan komprehensif lain-aset keuangan tersedia untuk dijual (bagian pos-pos yang akan direklasifikasi ke laba rugi.

  • Piutang lain-lain per 31 Desember 2020 sebesar Rp16,355 miliar mengalami penurunan sebesar Rp18,672 miliar atau turun 53,31% jika dibandingkan saldo per 31 Desember 2019 sebesar Rp35,027 miliar dikarenakan adanya beban penghapusan piutang lain-lain yang tidak tertagih sebesar Rp19,103 miliar pada tahun 2020 dan juga lebih tingginya penerimaan pembayaran transaksi di luar usaha oleh
    Perusahaan di Kuartal 4 (Q4) tahun 2020 dibandingkan dengan Q4 tahun 2019.
  • Uang muka per 31 Desember 2020 sebesar Rp1,832 miliar mengalami penurunan sebesar Rp4,071 miliar (68,96%) dibandingkan saldo per 31 Desember 2019 sebesar Rp5,903 miliar dikarenakan lebih rendahnya pengeluaran uang muka pembelian persediaan dan keperluan operasional lainnya oleh Perusahaan di periode Q4 tahun 2020 dibandingkan dengan Q4 tahun 2019.
  • Pajak dibayar dimuka per 31 Desember 2020 sebesar Rp3,825 miliar mengalami penurunan sebesar
    Rp1,698 miliar (30,74%) dibandingkan saldo per 31 Desember 2019 sebesar Rp5,523 miliar dikarenakan lebih rendahnya saldo Pajak Pertambahan Nilai (PPN) - Faktur Pajak Masukan yang belum dikreditkan per 31 Desember 2020 dibanding 31 Desember 2019 dan Faktur Pajak Masukan yang belum dikreditkan per 31 Desember 2020 tersebut akan dikreditkan dalam SPM PPN masa periode di tahun 2021.
  • Biaya dibayar dimuka per 31 Desember 2020 sebesar Rp0,553 miliar mengalami penurunan sebesar $\bullet$ Rp3,820 miliar (87,35%) dibandingkan saldo per 31 Desember 2019 sebesar Rp4,373 miliar dikarenakan
    efektif pada tanggal 1 Januari 2020, Perusahaan menerapkan perhitungan PSAK 73 "Sewa", dimana PSAK ini menetapkan prinsip pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pengungkapan atas sewa dengan memperkenalkan model akuntansi tunggal dengan mensyaratkan untuk mengakui aset hak guna (right of use assets) dan liabilitas sewa (reklasifikasi penyajian laporan, yang sebelumnya tercatat sebagai akun sewa dibayar dimuka) pada tanggal laporan posisi keuangan konsolidasian atas objek sewa: sewa showroom, bangunan kantor, gudang serta ruko, dan kendaraan.
  • Goodwill per 31 Desember 2020 sebesar nihil mengalami penurunan sebesar Rp14,207 miliar (100,00%) dibandingkan saldo per 31 Desember 2019 sebesar Rp14,207 miliar dikarenakan pada tanggal 22
    Desember 2020, Perusahaan mengalihkan seluruh saham Perusahaan berjumlah 2.550 saham (51,00%) di PT Nusapangan Sukses Makmur kepada PT Pusat Riyal Amanah maka Perusahaan menghapuskan nilai buku bersih goodwill per 31 Desember 2020 adalah Rp14.206.660.206 pada akhir tahun 2020.
  • Aset hak guna dan liabilitas sewa per 31 Desember 2020 masing-masing sebesar Rp4,864 miliar dan Aset hak gula dan habilitas sewa per 51 Desember 2020 masing-masing sebesar Np4,004 mililar dan Rp3,699 miliar mengalami peningkatan masing-masing sebesar 100,00% dibandingkan saldo per 31 Desember 2019 masing-masing sebes tanggal laporan posisi keuangan konsolidasian atas objek sewa: sewa showroom, bangunan kantor, gudang serta ruko, dan kendaraan.
  • Aset tidak lancar lainnya per 31 Desember 2020 sebesar Rp20,077 miliar mengalami penurunan sebesar
    Rp8,298 miliar (29,25%) dibandingkan saldo per 31 Desember 2019 sebesar Rp28,375 miliar dikarenakan adanya penurunan biaya ditangguhkan-renovasi, jaminan kerjasama dan piranti lunak selama periode Januari - Desember 2020.
  • Utang pajak per 31 Desember 2020 sebesar Rp8,559 miliar mengalami peningkatan sebesar Rp3,139 miliar (57,91%) dibandingkan saldo per 31 Desember 2019 sebesar Rp5,420 miliar terutama dikarenakan lebih tingginya saldo Utang pajak - Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Penghasilan Pasal 21 dan Pajak Penghasilan Pasal 29 per 31 Desember 2020 dibandingkan 31 Desember 2019. Saldo Utang pajak - Pajak Pertambahan Nilai (PPN) per 31 Desember 2020 tersebut telah dibayarkan ke Kas Negara pada akhir bulan Januari 2021.
  • Beban masih harus dibayar per 31 Desember 2020 sebesar Rp3,022 miliar mengalami kenaikan sebesar $\bullet$ Rp0,672 miliar atau naik 28,62% jika dibandingkan saldo per 31 Desember 2019 sebesar Rp2,350 miliar

dikarenakan lebih tingginya beban masih harus dibayar yang terutang per 31 Desember 2020 dibandingkan 31 Desember 2019, antara lain seperti royalti, jamsostek (employee social security) dan biaya-biaya keperluan operasional lainnya.

  • Pendapatan ditangguhkan per 31 Desember 2020 sebesar nihil mengalami penurunan sebesar Rp31,818 $\bullet$ juta (100,00%) dibandingkan saldo per 31 Desember 2019 sebesar Rp31,818 juta dikarenakan terealisasinya transaksi pendapatan ditangguhkan sebesar tersebut sampai dengan akhir tahun 2020.
  • Utang lain-lain per 31 Desember 2020 sebesar Rp7,752 miliar mengalami penurunan sebesar Rp4,269 $\bullet$ miliar (35,51%) dibandingkan saldo per 31 Desember 2019 sebesar Rp12,021 miliar dikarenakan lebih rendahnya transaksi operasional Perusahaan dengan vendor-vendor pihak ketiga di Q4 tahun 2020 dibandingkan dengan Q4 tahun 2019 serta terdapatnya pelunasan utang pokok kepada PT Bumi Serpong Damai Tbk atas pembelian 1 unit Ruko Foresta di BSD, Tangerang di periode Q1 tahun 2020.
  • $\bullet$ Uang muka pelanggan per 31 Desember 2020 sebesar Rp560,097 juta mengalami peningkatan sebesar Rp400,197 juta (250,28%) dibandingkan saldo per 31 Desember 2019 sebesar Rp159,900 juta
    dikarenakan lebih tingginya penerimaan uang muka dari pelanggan sampai dengan per 31 Desember 2020 dibandingkan per 31 Desember 2019.
  • Utang pembiayaan konsumen (bagian yang jatuh tempo dalam waktu satu tahun + bagian setelah dikurangi bagian yang jatuh tempo dalam satu tahun) per 31 Desember 2020 sebesar Rp2,469 miliar mengalami kenaikan sebesar Rp0,719 miliar atau naik 41,10% jika dibandingkan saldo per 31 Desember 2019 sebesar Rp1,750 miliar dikarenakan adanya penambahan aset tetap kendaraan melalui utang
    pembiayaan konsumen pada periode Februari 2020 dengan utang pokok pembiayaan sebesar Rp2,293 miliar, serta adanya pembayaran utang pokok per 31 Desember 2019 kepada lembaga pembiayaan
    konsumen (PT BCA Finance, PT Maybank Indonesia Finance, PT Mandiri Tunas Finance dan PT Hino Finance Indonesia) selama periode Januari - Desember 2020.
  • Liabilitas bersih operasi dalam penghentian per 31 Desember 2020 sebesar nihil mengalami penurunan $\bullet$ sebesar Rp17,105 miliar (100,00%) dibandingkan saldo per 31 Desember 2019 (Disajikan kembali) sebesar Rp17,105 miliar dikarenakan Perusahaan melakukan penyajian kembali (restatement) atas saldo laporan posisi keuangan konsolidasian per 31 Desember 2019 sehubungan dengan transaksi Perusahaan mengalihkan seluruh saham Perusahaan berjumlah 2.550 saham (51,00%) di PT Nusapangan Sukses Makmur kepada PT Pusat Riyal Amanah berdasarkan Perjanjian Pengikatan Jual Beli Saham pada tanggal 22 Desember 2020. Transaksi penjualan tersebut dianggap sebagai operasi yang dihentikan dan perhitungkan sesuai dengan PSAK 58 "Aset Tidak Lancar yang Dimiliki Untuk Dijual dan Operasi yang Dihentikan".

Demikian informasi yang dapat kami sampaikan dan atas perhatiannya, kami ucapkan terima kasih.

Corporate Secretary